Ikuti Kami

Wamendikdasmen Dorong Penguatan Budaya Akademik dan Literasi melalui Bedah Buku Jakarta 1998

SMAN 1 Tebing Syahbandar - Wamendikdasmen Dorong Penguatan Budaya Akademik dan Literasi melalui Bedah Buku Jakarta 1998

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat membuka secara resmi kegiatan Bedah Buku Jakarta 1998: Dari Soeharto ke Habibie (Krisis Ekonomi, Tragedi Trisakti, dan Jatuhnya Orde Baru) yang diselenggarakan Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium FPIPS UPI tersebut menjadi ruang akademik untuk mengkaji kembali salah satu periode penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Melalui kegiatan ini, sivitas akademika diajak untuk melihat peristiwa 1998 tidak hanya sebagai catatan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran bagi generasi masa kini. Forum tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat tradisi akademik, budaya membaca, dan kemampuan berpikir kritis di lingkungan perguruan tinggi.

Buku Jakarta 1998 mengangkat berbagai dinamika yang terjadi pada masa peralihan pemerintahan dari Presiden Soeharto kepada Presiden B.J. Habibie. Sejumlah peristiwa penting dibahas dalam buku tersebut, mulai dari krisis ekonomi dan moneter, Tragedi Trisakti, gerakan mahasiswa, hingga berakhirnya pemerintahan Orde Baru. Pengkajian terhadap rangkaian peristiwa tersebut menjadi penting karena perubahan yang terjadi pada 1998 turut membentuk kehidupan sosial, politik, dan ekonomi Indonesia hingga saat ini. Oleh karena itu, bedah buku menjadi ruang yang relevan untuk mempertemukan pengetahuan sejarah dengan perspektif akademik dan pengalaman generasi yang mengalaminya secara langsung.

Dalam sambutannya, Wamen Atip menyampaikan bahwa buku Jakarta 1998 memberikan gambaran mengenai fakta-fakta yang terjadi pada salah satu periode penting dalam sejarah Indonesia. Menurutnya, krisis yang pada awalnya terjadi di kawasan Asia turut memberikan dampak yang besar terhadap Indonesia. Kondisi tersebut antara lain ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan munculnya berbagai gerakan sosial sebagai respons terhadap kondisi ekonomi yang terjadi. “Tailan adalah negara pertama yang terimbas krisis pada 1998 dan tidak lama berimbas ke Indonesia. Saat itu muncul gerakan untuk mencintai produk dalam negeri dan nilai tukar dolar ke rupiah melambung ke angka tertinggi,” ujarnya.

Sumber : 
https://www.kemendikdasmen.go.id/berita/16154-wamendikdasmen-dorong-penguatan-budaya-akademik-dan-literasi-melalui-bedah-buku-jakarta-1998